Ngurir Sabu Laju Sepeda Motor Ibu Rumah Tangga Tsk CE Dihentikan Opsnal Resnarkoba Dan Langsung Dibekuk

  • Whatsapp

“Terdesak himpitan ekonomi seorang ibu rumah tangga tsk CE rela menjadi kaki tangan bandar sabu”

Bacaan Lainnya

KUTIMNEWS.COM, SANGATTA – Tahu resikonya akan berhadap dengan aparat hukum “polisi” seorang ibu rumah tangga yang kini menjadi tersangka CE (35) tahun, tanpa peduli tetap nekat terjun ke bisnis hitam jaringan narkotika jenis sabu-sabu, walau peran IRT tsk CE sebagai jasa pengantaran courier sabu-sabu.

(teks – foto : Ist Pol/K.N)

Tampak seorang ibu rumah tangga tersangka CE yang sempat ngurir sabu dan diamankan team opsnal Satresnarkoba Polres Kutim

Gerak-gerik tsk IRT CE tersebut dapat dengan cepat terdeteksi oleh jajaran team opsnal dari Unit Satresnarkoba Polres Kutim yang dikepalai oleh Kasat Resnarkoba langsung Iptu Rachmawan turut mewakili Kapolres Kutim AKBP Welly Djatmoko, , S.H., S.I.K.

Iptu Rachmawan mengatakan gerak – gerik tsk CE yang juga ibu rumah tangga ini diamankan saat akan melintas dari arah Bontang menuju Sangatta Km 7. “Setelah anggota kami berhasil menghentikan laju sepeda motornya, tanpa membuang waktu anggota langsung mengeledah seisi kendaraan roda dua tersangka dan dugaan petugas benar saja dari dalam dashboard sepeda motornya satuan unit Satresnarkoba Polres Kutim mengamankan poketan sabu seberat 29,76 gram,”ungkap Kasat Resnarkoba Polres Kutim.


(teks – foto : Ist Pol/K.N)

Barang bukti sabu seberat 29.76 gram yang diamankan dari tangan tsk CE

Kasat Resnarkoba menjelaskan sebenanrya tsk CE merupakan warga Sepaso Timur Kecamatan Bengalon. “Saat kami periksa dari pengakuan tsk dirinya terpaksa melakoni ngurir sabu karena terdesak himpitan ekonomi,” jelas Iptu Rachmawan mengutip kembali pengakuan tsk saat diperiksa tom lidik Polres Kutim.

Iptu Rachmawan beranggapan apapun alibi (alasan) tsk CE tetap bertentangan melawan hukum, untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya tsk CE tersebut dikenakan pasal 112 ayat (1) UU Narkotika menyebutkan setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menanam, memelihara, memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I dalam bentuk tanaman, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 800 juta dan paling banyak Rp 8 miliar.(aji/rin)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *