Aturan Hukum Di Buat Karhutla Bukan Berati Tanpa Solusi Banyak Tekhnik Yang Baik Perluasan Lahan Berikut Penjelasanya

  • Whatsapp

(teks-foto : Ist/K.N)

Bacaan Lainnya

Ketua DPRD Kutim Joni memberikan pandangan positif terkait aturan konsukuensi hukum terkait kebakaran hutan dan lahan dampak perluasan areal pertanian. Masih banyak cara-cara yang lebih aman “safety”

Penulis Daya Bhara Aji, S.Sos

Tentunya alam memberikan sumber penghidupan baik kepada manusia maupun habitat hewan dan ekosistem lainnya. Jadikanlah informasi ini menjadi edukasi terlebih hutan merupakan paru-paru dunia tentunya bagaimana kita memperlakukan alam semesta sebagai aksi nyata“Sayangi Bumi” tanpa harus merusak dengan cara membakarnya.

Alam tak disentuh dengan ramah bisa disebabkan pada kesalahan manusia “Human Eror” maka alam pun dapat memberikan jawaban akan dampak musibah (bencana)

Untuk itu terkait intruksi antisipasi kebakaran lahan dan hutan bukan berarti aktivitas pertanian terhenti, namun dalam hal ini penanganan perluasan lahan dapat lebih ramah lingkungan tanpa harus membakar

Sejak adanya aturan perundangan dan pasal sanksi hukum yang dikenakan menyangkut permasalahan karhutla memicu banyak kontroversi ada yang setuju dan tidak.

(teks-foto : Ist/K.N)

Tinggalkan pola-pola lama beralih ke penanganan perluasan lahan yang lebih modern dan ramah lingkungan dengan tidak lagi membakar lahan dan hutan

KutimNews.com, SANGATTA – Seperti sebelumnya diberitakan dimedia yang sama aksi pembakaran lahan dan hutan disikapi ketua DPRD Kutim Joni, S.Sos yang menuai banyak sudut pandangan berbeda.

Misalnya pola membakar lahan merupakan suatu “kebiasaan” tradisi adat dan budaya secara turun-temurun, bagaimana apabila diatur dalam perundangan dan pasal sanksi hukum. “Karena itu sudah menjadi produk hukum di Negara Republik Indonesia dan dibakukan. Artinya jangan sampai akibat karhutla menimbulkan kerugian bagi orang lain, terutama mengancam keselamatan tentunya dipastikan berhadapan dengan proses hukum,” ungkap Joni.

(teks-foto : Ist/ilustrasi/K.N)

Tekhnik modern perluasan lahan bisa menggunakan bantuan alat berat excvator “mini” bisa melalui sewa, pinjam pakai

Suatu aturan dibuat bukan berarti tidak ada solusinya masih banyak pola-pola modern pada proses perluasan lahan dengan tidak lagi membakarnya.

Pada kesempatan ini Ketua DPRD Joni sedikit memberikan gambaran efek negatif yang bisa terjadi dari pembakaran lahan dan hutan sudah banyak contoh selain bisa menimbulkan kebakaran dengan cepat apalagi disekitarnya ada rumah-rumah pangung kayu warga sekitar belum lagi polusi asap mengakibatkan kabut asap serta menganggu kesehatan manusia seperti gangguan pada saluran pernafasan.

“ Apa jadinya jika terjadi kabut asap tentunya menghambat aktivitas keseharian manusia karena tidak mau terkontaminasi asap, bahkan jika kadar kandungan racun asap yang meningkat dipastikan berdampak pada lumpuhnya perputaran roda perekonomian, transportasi udara, kapal laut, kendaraan roda empat dan dua terganggu karena tebalnya asap menutup jarak pandang tentunya memicu accident seperti lakalantas, pesawat gagal terbang dan mendarat bahkan dari peristiwa laka udara pesawat jatuh pernah terjadi karena kepekatan tebalnya asap ditimbulkan,”ujar Joni menggambarkan

Berikut tips aman proses perluasan areal lahan pertanian seperti dikutip dalam pemberitaan konten nasional TRIBUNNEWS.COM Jakarta yang mengupas tuntas tekhnik-tekhnik ramah lingkungan agar tidak dihadapkan akan aturan Karhutla berikut wawancara jurnalis nasional dengan mengundang sumber (pakar) yaitu Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG), Nazir Foead.


(foto – teks : Ist/K.N)

Tampak ilustrasi “manual” perluasan lahan dengan tekhnik merintis lebih aman terhindar dari kebakaran hutan dan lahan yang besar

Pada keterangan pers-nya Nazir Foead mengungkapkan ada 3 tekhnik perluasan lahan. Adapun opsi pertama dengan cara membuka lahan dengan menggunakan alat berat, yang mana menurutnya memang memakan banyak biaya, apakah bisa dengan membeli atau sistem sewa “pinjam pakai”

“Untuk tips kedua memang masih menggunakan proses pembakaran akan tetapi tidak memicu musibah Karhutla, pertama-tama rumput yang telah mengering terlebih dahulu dirintis “babat” kemudian tumpukan rerumputan kering dibakar dalam wadah drum,” terang Nazir Foead.

Nazir Foead menjelaskan setelah tumpukan rumput kering dibakar di dalam drum kemudian drum ditutup dengan cerobong asap, mengapa hal ini harus dilakukan tentunya meminimalisir kepulan asap mengurangi tingkat polusi.Setelah rerumputan, semak belukar habis terbakar didalam drum, maka kembali kita masukan rerumputan kedalam drum tadi lagi,” beber Nazir Foead.

Adapun opsi ketiga dengan menggunakan bahan-bahan biologis.
“Kasih larutan biologis, organik, bakteri pengurai dekomposisi. jadi lapuk karena bakteri, secara alami terjadi, tapi ini di akselerasi, dalam tiga minggu sudah bersih lahan,” terang Nazir Foead.

“Tentu ada konsekuensinya. yang satu lebih mahal, yang kedua paling murah ini, tapi ini butuh waktu satu bulan baru bersih. Kami optimistis salah satu dari tiga cara ini akan ditrima dengan baik dan bisa banyak dipraktikkan sesudah pada musim tanam,” urainya.(aji/rin)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *